Talas Beneng Emas Nusantara: Menyulam Kembali Ketahanan Pangan Lokal di Tengah Krisis Iklim
Melestarikan Keanekaragaman Hayati: Mengungkap Potensi Talas Beneng sebagai Benteng Ketahanan Pangan Lokal
Gambar 1. Tanaman Talas Beneng (Sumber : gdm.id)
Di tengah krisis iklim yang kian melanda Indonesia, dengan curah hujan dan suhu panas yang tidak menentu, membuat beberapa petani di beberapa daerah di Indonesia mengalami gagal panen karena kemarau yang berkepanjangan serta fenomena hujan ekstrem yang menyerang lahan dan perkebunan mereka. Hal ini merupakan awal dari permasalahan yang melanda ketahanan pangan di Indonesia, atau yang biasa disebut dengan krisis pangan. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi ketahanan pangan suatu negara adalah keanekaragaman hayati tumbuhan. Negara dengan keanekaragaman hayati tumbuhan yang beragam dapat mengatasi penurunan produktivitas bahan pangan pokok akibat terjadinya perubahan iklim dengan mengganti atau substitusi menggunakan bahan pangan lain yang memiliki kandungan gizi serupa (Agustin et al., 2024). Di Indonesia, pemerintah menjaga kestabilan ketahanan pangan dengan melakukan substitusi pangan utama melalui promosi pangan lokal menggunakan tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim (Maretta et al., 2021).
Kestabilan pangan dalam suatu negara dapat diwujudkan melalui penerapan sistem pertanian berkelanjutan yang mencakup diversifikasi tanaman. Diversifikasi tanaman merupakan peralihan tanaman atau sistem tanam ke tanaman lain yang lebih berkelanjutan, spesifik lokal, berdasarkan kebutuhan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia dengan cara terbaik (Nahar et al., 2024). Diversifikasi tanaman yang tepat untuk diterapkan di Indonesia adalah tanaman umbi-umbian. Sebagai negara yang menjadikan padi sebagai sumber karbohidrat utama, Indonesia dapat memanfaatkan tanaman umbi-umbian karena memiliki kandungan gizi yang serupa dengan padi. Tanaman umbi-umbian mudah didapatkan dan tumbuh di berbagai kondisi lingkungan, serta adaptif terhadap perubahan iklim, sehingga cocok dijadikan substitusi bagi pangan utama seperti beras.
Di Provinsi Banten, tepatnya di Kabupaten Pandeglang terdapat sebuah komoditas tanaman lokal yang ikonik dan diunggulkan bernama talas beneng (xanthosoma undipes) yang bisa dijadikan sebagai pengganti makanan pokok. Karena ukurannya yang sangat besar masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan “beneur” (besar) dan “koneng” (kuning), yaitu talas yang besar dan kuning. Tanaman ini merupakan tanaman yang hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, seperti bagian umbi, daun, dan tangkai daunnya. Umbinya dapat dijadikan sebagai tepung yang dapat diolah menjadi berbagai makanan, tangkai daunnya dapat diolah menjadi sayuran yang dapat dimanfaatkan sebagai lauk pendamping makanan pokok (Kusumawati et al., 2019).
Gambar 2. Umbi Talas Beneng (Sumber : Merdeka.com)
Sejumlah komunitas petani dan usahatani mulai menyadari potensi talas beneng sebagai solusi ketahanan pangan, dan mereka memulai budidaya talas beneng secara massal dan mengembangkan berbagai produk olahan dari talas beneng. Salah satu usaha tani yang membudidayakan talas beneng berada di Desa Padang Langgis, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang. Petani di daerah ini tidak hanya menanam talas beneng tetapi juga berbagai tanaman komoditi lainnya. Penanaman talas beneng memberikan banyak keuntungan, di antaranya perawatan yang mudah, minim gangguan hama penyakit, dan manfaat luar biasa, salah satunya adalah sebagai anti kanker. Talas Beneng ini memiliki khasiat di antaranya daunnya dapat dijadikan sebagai pengganti tembakau. Selain itu, daunnya juga dapat dijadikan sebagai pengganti minuman teh yang memiliki rasa yang enak. Sedangkan umbinya dapat dijadikan tepung talas sebagai bahan makanan atau sumber karbohidrat (Maulina et al. 2022).
Meskipun talas beneng memiliki potensi yang sangat besar, tetapi pengembangannya masih menghadapi beberapa tantangan. Hasil kajian Ramadhan et al. (2022) menunjukkan bahwa saat ini masih terdapat kendala dalam pengembangan agribisnis talas beneng di Kabupaten Pandeglang, Banten, di antaranya: 1) permintaan konsumen belum dapat dipenuhi dikarenakan produksi talas beneng yang masih kurang; 2) keterbatasan peralatan untuk pengolahan (pasca panen) pada skala rumah tangga, termasuk upaya pengeringan yang masih mengandalkan cahaya matahari; 3) pengetahuan dan minat petani/kelompok tani dalam usahatani talas beneng masih terbatas; 4) ketersediaan bibit belum terjamin (jenis dan mutu); serta 5) kelembagaan agribisnis berbasis korporasi yang belum berfungsi optimal (koperasi, kelompok tani, dan asosiasi pengusaha).
Namun, terdapat peluang yang sangat besar di balik dari tantangan tersebut. Dalam mendukung talas beneng menjadi sumber pangan lokal yang berkelanjutan dan mengatasi permasalahan awal yang ada, diperlukan peran kelembagaan yang mampu mendukung sistem usaha agribisnis yang berdaya saing dan menguntungkan petani. Adanya kelembagaan yang terintegrasi tentunya dapat mendukung peningkatan daya saing suatu produk yang terpadu dan berkesinambungan (Nuraini et al., 2016). Susilo (2013) mengatakan bahwa kelembagaan merupakan faktor penting dalam mengatur hubungan antar individu untuk mengatur penguasaan faktor produksi yang langka. Kelembagaan yang berperan sebagai institutional building dapat berperan dalam menunjang kegiatan usahatani yang baik (Tedjaningrum et al., 2018), termasuk membuka akses petani terhadap input produksi, pemasaran, transfer knowledge antar petani, akses bantuan dan benih, akses pelatihan, serta permodalan (Novanda, 2019).
Pengembangan talas beneng sebagai komoditas strategis dipercepat oleh berbagai faktor, termasuk dukungan teknologi, ketersediaan bahan baku, peluang pasar, perluasan area tanam, dan dukungan kelembagaan. Oleh karena itu, kajian mengenai kelembagaan pertanian, khususnya terhadap produk berbasis pangan lokal seperti talas beneng dengan mengedepankan pendekatan partisipatif perlu dilakukan. Hal ini bertujuan agar terbentuknya model pengembangan kelembagaan agribisnis talas beneng yang terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan (Ramadhan et al., 2022).
Namun, terdapat peluang yang sangat besar di balik dari tantangan tersebut. Dalam mendukung talas beneng menjadi sumber pangan lokal yang berkelanjutan dan mengatasi permasalahan awal yang ada, diperlukan peran kelembagaan yang mampu mendukung sistem usaha agribisnis yang berdaya saing dan menguntungkan petani. Adanya kelembagaan yang terintegrasi tentunya dapat mendukung peningkatan daya saing suatu produk yang terpadu dan berkesinambungan (Nuraini et al., 2016). Susilo (2013) mengatakan bahwa kelembagaan merupakan faktor penting dalam mengatur hubungan antar individu untuk mengatur penguasaan faktor produksi yang langka. Kelembagaan yang berperan sebagai institutional building dapat berperan dalam menunjang kegiatan usahatani yang baik (Tedjaningrum et al., 2018), termasuk membuka akses petani terhadap input produksi, pemasaran, transfer knowledge antar petani, akses bantuan dan benih, akses pelatihan, serta permodalan (Novanda, 2019).
Pengembangan talas beneng sebagai komoditas strategis dipercepat oleh berbagai faktor, termasuk dukungan teknologi, ketersediaan bahan baku, peluang pasar, perluasan area tanam, dan dukungan kelembagaan. Oleh karena itu, kajian mengenai kelembagaan pertanian, khususnya terhadap produk berbasis pangan lokal seperti talas beneng dengan mengedepankan pendekatan partisipatif perlu dilakukan. Hal ini bertujuan agar terbentuknya model pengembangan kelembagaan agribisnis talas beneng yang terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan (Ramadhan et al., 2022).
Gambar 3. Penanaman dan Budidaya Talas Beneng (Sumber : gdm.id)
Talas beneng bukan hanya sekedar umbi-umbian biasa, tetapi juga tanaman yang berpotensi sebagai warisan budaya lokal dan sumber pangan yang berkelanjutan. Tanaman ini pertumbuhannya mudah dan cepat. Batang umbi berumur lebih dari dua tahun, panjang mencapai 120 cm dengan bobot 42 kg dan ukuran lingkar luar 50 cm. Pemanfaatan umbi talas Banten sejauh ini diolah menjadi keripik dan tepung yang diolah lebih lanjut menjadi makanan lainnya. Pemanfaatan yang masih terbatas namun pertumbuhan talas Banten yang mudah dan cepat menjadikan talas Banten berpotensi untuk dimanfaatkan dalam industri pangan secara luas (Fetriyuna et al., 2016). Saat ini, Talas Beneng diolah secara tradisional dan sebagian dimanfaatkan menjadi tepung dan pati. Menurut Yuniarsih (2018), pemanfaatan produk tepung dan pati menjadi produk pangan yang siap untuk dikonsumsi dinilai masih sangat terbatas, walau tidak sedikit pula produk pangan yang telah diproduksi berbahan dasar Talas Beneng seperti: cake, lapis talas, brownies, dan lain-lain.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk mendukung upaya budidaya dan pelestarian tanaman talas beneng. Mulai dari memilih produk-produk lokal yang berbahan talas beneng, menanam talas beneng di pekarangan rumah, hingga berbagi informasi tentang definisi, manfaat, dan potensi talas beneng. Dengan demikian, melalui upaya bersama dan semangat gotong royong, dapat dipastikan bahwa talas beneng akan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi generasi mendatang.
REFERENSI:
Agustin, A. I., Hermita, N., Fatmawaty, A. A., dan Kartina, A. M. 2024. Identifikasi Pengaruh Ketinggian Tempat Terhadap Morfologi Talas Beneng (Xanthosoma undipes K Koch). JIA (Jurnal Ilmiah Agribisnis): Jurnal Agribisnis dan Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Vol. 9(2): 102-113.
Fetriyuna, L., Marsetio, E. R., dan Pratiwi, R. L. 2019. Pengaruh Lama Modifikasi Heat-Moisture Treatment (HMT) Terhadap Sifat Fungsional dan Sifat Amilografi Pati Talas Banten (Xanthosoma undipes K. Koch). Jurnal Penelitian Pangan. Vol. 1(1): 44-50.
Hasymi, L. F., Rusida, E. R., Hastuti, E., Setia, L., Torizellia, C., dan Prihandini, Y. A. 2021. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemanfaatan Sumber Daya Pangan Lokal Tanaman Talas untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat dan Sebagai Tambahan Variasi Makanan di Rumah Sakit. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. 2(3): 531-538.
https://gdm.id/budidaya-talas-beneng/. Diakses pada hari Senin 2 Desember 2024.
https://www.merdeka.com/jabar/intip-keunikan-talas-beneng-si-umbi-raksasa-asal-pandeglang-yang-mendunia.html. Diakses pada hari Senin 2 Desember 2024.
Kusumasari, S., Eris, F.R., Mulyati, S., dan Pamela, V.Y. 2019. Karakterisasi Sifat Fisikokimia Tepung Talas Beneng Sebagai Pangan Khas Kabupaten Pandeglang. Jurnal Agroekoteknologi. Vol. 11(2): 227-234.
Maretta, D., Sobir, I., Helianti, I., Purwono, P., dan Santosa, E. 2021. Current Status of Taro (Colocasia Esculenta) Utilization as Local Food Diversification Toward Climate Resilience in Indonesia. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science. Pp 1-10.
Maulina, S., Rozalina, dan Supristiwendiz. 2022. Strategi Budidaya Talas Beneng (Xanthosoma undipes) (Studi Kasus Usahatani Bapak Lukman di Desa Padang Langgis Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang). Jurnal Inovasi Penelitian. Vol. 3(5): 6049-6055.
Nahar, N., Rahman, M.W., Miah, M.A.M., dan Hasan, M.M. 2024. The Impact of Crop Diversification on Food Security of Farmers in Northern Bangladesh. Agriculture and Food Security. Vol. 13(1): 1–13.
Novanda, R.R. 2019. Pengaruh Kelembagaan, Pembiayaan, dan Kemandirian terhadap Kewirausahaan Petani Padi Metode Hazton di Kabupaten Menpawah, Kalimantan Barat. Journal of Agricultural Socioeconomics and Business. Vol. 2(2): 1-9.
Nuraini, F., Maharani, R., dan Andrianto. 2016. Strategi Peningkatan Daya Saing UMKM dan Koperasi dalam Menghadapi AEC (Asean Economic Community): Suatu Telaah Kepustakaan. Prosiding Seminar Nasional Ekonomi dan Bisnis dan Call For Paper FEB UMSIDA 2016. Pp 480-496.
Nurtiana, W., dan Pamela, V. Y. 2019. Characterization of Chemical Properties and Color of Starch from Talas Beneng (Xanthosoma undipes K. Koch) Extraction as a Source of Indigenous Carbohydrate from Pandeglang Regency, Banten Province. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science. Pp 1-7.
Ramadhan, R. P., Aminah, S., Wardana, I. P., Subekti, N. A., dan Putra, M. T. P. 2022. Kelembagaan Talas Beneng: Instrumen Penting Mewujudkan Agribisnis Talas Beneng Berkelanjutan (Studi Kasus Pengembangan Talas Beneng di Kabupaten Pandeglang, Banten). Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Agribisnis VI. Vol: 6(1). 433-439.
Susilo, E. 2013. Peran Koperasi Agribisnis dalam Ketahanan Pangan di Indonesia. Jurnal Dinamika Ekonomi dan Bisnis. Vol. 10(1): 95-103.
Tedjaningrum, T., Suyudi, H., Nuryaman. 2018. Peran Kelembagaan dalam Pengembangan Agribisnis Mendong. Mimbar Agribisnis. Vol. 4(2): 210-226.
Yuniarsih, E. 2018. Karakteristik Tepung Komposit Talas Beneng (Xanthosoma undipes) Dan Daun Kelor (Moringa oleifera) Serta Aplikasinya Pada Produk Kukis. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Komentar
Posting Komentar