Mengenal Kokoleceran, Tanaman Endemik Langka Warisan Alam Banten

Mengenal Lebih Dekat Kokolecaran (Vatica bantamensis) Flora Langka Asal Banten yang Terancam Punah Melalui Ciri-ciri dan Morfologinya

Gambar 1. Kokoleceran (Sumber : biodiversitywarriors.kehati.or.id)

    Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan besar dengan lebih dari 14.700 pulau, dan menjadi salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbanyak di dunia. Menurut Widjaja et al. (2014) menyatakan bahwa Indonesia memiliki 42.584 spesies tumbuhan, di mana 39% di antaranya adalah endemik yaitu tidak ada di tempat lain di bumi. Namun, keanekaragaman flora yang tinggi ini menghadapi ancaman serius dari hilangnya dan degradasi habitat, eksploitasi berlebihan, polusi, spesies asing invasif, dan perubahan iklim (Robiansyah et al., 2019). 
    Berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 48/1989 menetapkan kokoleceran (Vatica bantamensis (Hassk.) Benth. & Hook.f. ex Miq) sebagai flora endemik Provinsi Banten. Tumbuhan ini berasal dari Ujung Kulon. Namun, kondisi kokoleceran sangat rentan punah karena tumbuh di lokasi tertentu dan tidak ditemukan tumbuh di lokasi lain. Populasi kokoleceran juga sangat kecil, dan sebagai spesies tanaman endemik dengan rentang geografis yang sangat sempit, spesies ini semakin rentan terhadap kepunahan. Karena itu, untuk mencegah kepunahan spesies ini, diperlukan upaya konservasi melalui pembudidayaan untuk mempertahankan keberadaan tumbuhan ini.
    Berdasarkan data dari IUCN Red List yang ditulis oleh Robiansyah (2018) menyatakan bahwa saat ini kategori kelangkaan kokoleceran sudah meningkat menjadi kritis atau critically endangered di bawah kriteria B1ab(iii,v)+2ab(iii,v); C2a(ii), karena jumlah individu dewasa yang dijumpai masih di bawah 250 individu dan penyebarannya sangat terbatas.

Gambar 2. Kategori Kelangkaan Kokoleceran (Sumber : www.iucnredlist.org)


  Nama Vatica bantamensis berasal dari dua bagian: "Vatica", nama genusnya, dan "bantamensis", yang menunjukkan bahwa spesies ini berasal dari daerah Banten (Bantam dalam pelafalan Eropa kuno). Hal ini sesuai dengan Pernyataan Kautsar (2024) yang menyatakan bahwa ketika penjajah datang dan mencoba merebut dataran paling barat pulau Jawa ini, nama Banten sempat dikenal sebagai Bantam. Nama Indonesia-nya, kokoleceran, berasal dari bahasa Sunda dan menggambarkan buahnya yang berputar seperti baling-baling saat jatuh. Taksonomi talas beneng dijelaskan oleh Afianti (2016) ialah sebagai berikut: 

Kingdom

Plantae

Phylum

Tracheophyta

Class

Magnoliopsida

Order

Malvales

Family

Dipterocarpaceae

Genus

Vatica

Species

Vatica bantamensis


Adapun morfologi kokoleceran terdiri dari:

1.  Daun
   Daunnya berbentuk elips atau lanset dengan ukuran lamina (4,5-)7,5-18 x (1,8-)3,5-7,5 cm dan jumlah vena sekunder 9-11 pasang (Robiansyah et al., 2019).

Gambar 3. Daun Kokoleceran (Sumber : Robiansyah et al., 2019)


2.    Batang
    Pada bagian batang yang muda memiliki bulu-bulu halus dan lebat. Secara umum perawakan kokoleceran berupa pohon yang tingginya mencapai 30 m dengan diameter batang 60 cm (Nasrulloh, 2024).

Gambar 4. Batang Kokoleceran (Sumber : Robiansyah et al., 2019)


3.    Buah
    Bentuk buah agak bulat dengan panjang 10 cm, tangkai pendek 5 mm. Kelopak buah 5 yang berkembang menjadi 2 sayap panjang dan 3 sayap pendek, berwarna merah tidak beraturan. Di dalam buahnya terdapat biji yang berdiameter mencapai 1 cm (Kalima and Wardani 2017).

Gambar 5. Buah Kokoleceran (Sumber : Robiansyah et al., 2019)


4.  Bunga
     Perbungaannya malai dan terdapat di ujung daun atau di ketiak daun. Panjang perbungaan mencapai 7 cm (Nasrulloh, 2024).

Gambar 6. Bunga Kokoleceran (Sumber : www.forestdigest.com)

    Kokoleceran hidup di wilayah pegunungan dan lereng dengan ketinggian rata-rata 300-500 m dpl di daerah pegunungan dan lereng. Habitatnya ideal di daerah dengan tutupan tajuk lebat dan tanah yang asam.


REFERENSI:

Afianti, M. 2016. "Kokoleceran". Artikel pada https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/. Diakses pada hari Ahad, 02 November 2025.

Kalima, T., Wardani, W. 2017. Vatica bantamensis. In: Yulita, K. S., Partomihardjo, T., Wardani, W. (eds.). Prekursor Buku Daftar Merah Indonesia 1: 50 Jenis Pohon Kayu Komersial. Indonesian Plant Red List Authority, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi–LIPI, Cibinong Science Center, Bogor. Indonesia.

Kautsar, ND. 2024. "Dulu Banten Ternyata Sempat Bernama Bantam, Bermula dari Lidah Orang Eropa yang Keseleo". Artikel pada Merdeka.com. Diakses pada hari Ahad, 02 November 2025.

Robiansyah, I., Dodo, dan Hamidi, A. 2019. Population Status of Endemic Tree Kokoleceran (Vatica bantamensis) in Ujung Kulon National Park, Indonesia. BIODIVERSITAS. Vol. 20(1): 296–302.

Robiansyah, I. 2018. Vatica bantamensis (errata version published in 2018). The IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T31319A135558901.

Widjaja, E. A., Rahayuningsih, Y., Rahajoe, J. R., Ubaidillah, R., Walujo, E. B., dan Semiadi, G. 2014. Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014. LIPI Press, Jakarta. Indonesian.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Talas Beneng Emas Nusantara: Mengenal Lebih Dekat Talas Beneng, Varietas Unggul Nasional

Talas Beneng Emas Nusantara: Menyulam Kembali Ketahanan Pangan Lokal di Tengah Krisis Iklim